Muslim Pop | Kehidupan dunia memang memikat, namun Islam mengajarkan umatnya untuk mencintai dunia secara seimbang dan tidak berlebihan.
Seperti disampaikan oleh Ustadz Drs. Agus Suwarto Edi, M.Sos., dari Majelis Tabligh Muhammadiyah Kalimantan Timur dalam program Hikmah Pagi RRI, dikutip Muslim Pop hari ini.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Agus menjelaskan Islam tidak melarang umatnya untuk mencintai keindahan dan kekayaan dunia. Namun, cinta terhadap dunia harus tetap berada dalam koridor yang benar, tidak melalaikan kewajiban kepada Allah Ta’ala dan tidak menggeser prioritas hidup seorang Muslim.
“Islam tidak melarang kita untuk mencintai dunia, tapi ketika cinta itu berlebihan dan melalaikan kewajiban kepada Allah, itulah yang berbahaya,” ungkapnya.
Menurutnya, berbagai kebutuhan duniawi seperti makanan, tempat tinggal, kendaraan, dan kekayaan merupakan sarana dalam kehidupan, bukan tujuan. Semua itu hendaknya dijadikan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai pangkal kemelekatan duniawi.
Ustadz Agus mengutip Surat Al-Munafiqun ayat 9 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan berpotensi melahirkan berbagai penyakit hati seperti tamak, iri, sombong, dan kikir. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, cinta dunia adalah akar dari segala dosa.
“Jika cinta dunia ini tak terkendali, ia bisa menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran moral dan spiritual,” ujar Ustadz Agus.
Fenomena cinta dunia dalam kehidupan modern, menurutnya, tampak dalam gaya hidup konsumtif dan hedonistik. Keinginan untuk selalu tampil mengikuti tren fashion, memiliki gadget terbaru, bahkan sampai rela berutang melalui pinjaman daring demi gaya hidup semu, menjadi cerminan dari ketidakseimbangan dalam memandang dunia.
Ia juga menyoroti ambisi kekuasaan dan jabatan yang tidak lagi dianggap sebagai amanah, tetapi justru dijadikan sebagai alat memperkaya diri sendiri dan memperkuat status sosial.
“Jabatan yang seharusnya digunakan untuk melayani rakyat, malah dijadikan alat untuk memperkaya diri dan keluarga,” kata Ustaz Agus menambahkan.
Tak kalah penting, anggota Sahabat Misykat Indonesia itu juga menyinggung fenomena kecanduan media sosial yang menjangkiti masyarakat, termasuk umat Islam. Banyak orang mengejar validasi melalui jumlah pengikut, suka, dan komentar, yang pada akhirnya menimbulkan kesombongan serta melupakan hakikat kehidupan yang sesungguhnya.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengungkapkan keprihatinan atas rendahnya kesadaran umat Islam dalam menunaikan zakat. Berdasarkan data yang dikutip, potensi zakat di Indonesia mencapai lebih dari Rp328 triliun, namun realisasinya baru sekitar Rp41 triliun.
“Ini menandakan bahwa masih banyak orang yang tahu kewajiban zakat, tapi karena cintanya pada harta, enggan mengeluarkannya,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan, bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keseimbangan. Segala bentuk kenikmatan dunia adalah titipan yang harus dikelola dengan bijak. Ustadz Agus mengingatkan pentingnya menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan, seperti firman Allah dalam Surat Al-Qashash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
Menutup tausiyahnya, Ustadz Agus mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak cinta dunia. “Mari kita jadikan dunia sebagai ladang menanam amal, dan akhirat sebagai tujuan utama kita,” katanya mengakhiri tausyiah.