30.2 C
Jakarta
29 Agustus 2025
BerandaBeritaTemuan Artefak di Situs Bongal Jadi Titik Awal Perdagangan Islam

Temuan Artefak di Situs Bongal Jadi Titik Awal Perdagangan Islam

Jumat, Agustus 29, 2025

Muslim Pop | Arkeolog Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ery Soedewo mengungkapkan penemuan artefak di situs Bongal. Di mana, temuan ini menjadi titik awal penemuan asal mula perdagangan Islam.

Riset ini berawal pada 2019. Diawali permintaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah untuk meriset. Lalu, timnya mengunjungi lokasi penemuan beberapa benda purbakala dan dua keping koin.

“Saya memperkirakan saat itu temuan tersebut bukan dari zaman Kesultanan Islam Nusantara, tapi ini jauh lebih tua,” kata Ery, dalam peluncuran dan bedah buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I–IV H/VII–X M”, di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Penemuan itu lantas memacu ekskavasi sistematis di Bongal. Dalam empat tahun, para peneliti berhasil membuka 30 kotak gali di sisi kiri Sungai Lumut.

“Hasilnya mencengangkan, yakni ratusan artefak dari beragam belahan dunia, seperti koin Arab-Sasaniyah, dirham Umayyah dan Abbasiyah, keramik Changsha dari Dinasti Tang, pecahan kaca dari Persia, manik-manik Romawi, perhiasan batu pirus, hingga papan kapal beraksara Palawa,” beber Ery.

Benda tersebut, sambung dia, berasal dari India, Sri Lanka, dan Pakistan. Kemudian ada juga artefak-artefak dari kawasan Asia Timur, khususnya Cina atau Tiongkok. “Dari situ saya membuka buku-buku artikel terkait kawasan terdekat,” ungkapnya.

Dari ekskavasi juga ditemukan bukti bahwa tulisan yang terukir pada pecahan lambung kapal. “Hasil ekskavasi itu yakni graba-graba bergelasir dari situs-situs di Teluk Persia, seperti Situs Siraf, Alroy, dan Nisapur,” terangnya.

Dari temuan itu, Ery menyimpulkan, tradisi tulis memang sudah cukup intens berlaku di Situs Bongal.

Fakta menariknya, ucap dia, dari hasil salah satu eskavasi, terdapat lempengan dari kuningan dengan huruf yang awalnya disangka huruf Kufi. Namun, setelah berkonsultasi dengan rekannya di Prancis, Ery memperkirakan bahwa itu jauh lebih tua.

“Ini huruf Suryani. Jadi huruf yang mendahului huruf Arab,” lanjutnya.

Huruf Suryani digunakan oleh orang-orang di daerah yang sekarang dinamakan kawasan Syria atau Surya, ketika mereka belum menjadi Muslim.

Sebelum temuan Bongal, catatan paling awal tentang pantai barat Sumatra datang dari sumber Yunani Kuno abad ke-2 M yang menyebut “Barus” atau “Fansur” sebagai pusat kapur barus. Namun, bukti arkeologis baru muncul di Situs Lobu Tua dan Barus, bertanggal abad ke-9 M.

“Kami menyebutnya gap tujuh abad,” kata Ery. Baginya, Bongal mengisi sebagian besar kekosongan itu.

Timnya kemudian melakukan uji karbon pada pala, kemiri, kayu kemudi kapal, hingga tali ijuk yang menunjukkan pertanggalan abad ke-7–8 M. Bahkan artefak yang ditemukan warga, seperti sisir kayu dan gading gajah, terbukti berasal dari abad ke-4 M. “Ini membuktikan jurang waktu antara catatan Yunani dan bukti fisik kini menyempit drastis,” tegas Ery.

Ery menerangkan bahwa secara geografis, Bongal berada di posisi strategis. Yaitu menghadap langsung Samudera Hindia, diapit jalur Selat Malaka di utara dan Selat Sunda di selatan. Jalur ini menghubungkan Afrika Timur, Timur Tengah, India, dan Sri Lanka dengan Cina serta Asia Tenggara.

spot_img